The Untold Story of Ponari “Inilah fakta di Jombang, seorang bocah bernama Muhammad Ponari (10) yang mendapatkan batu ajaib seusai disambar petir kini menjadi fenomena yang mencengangkan. Ponari menjelma menjadi juru sembuh. Puluhan ribu orang berjejal di rumahnya di Kecamatan Megaluh, Jombang, Jawa Timur. Mereka berdatangan dari berbagai kota di Jawa Timur, bahkan hingga Jawa Tengah. Banyak orang berharap batu ajaib di tangan Ponari bisa menyembuhkan segala macam penyakit”, begitulah berita yang ditulis kompas.com, 10 Februari 2009. Entah karena masyarakat desa sekarang sudah terbiasa membaca kompas.com ataukah melihat tayangan di berbagai stasiun televisi swasta di Indonesia, esoknya belasan ribu masyarakat berbondong-bondong menuju rumah Ponari. Karena saking banyaknya masyarakat yang antri untuk mendapatkan pengobatan ala Ponari, mereka sampai rela nginep 3 malam di halaman sekolah terdekat. Hasilnya, 2 mati dan ratusan lainnya pingsan! Seperti sudah tradisi di negeri ini, jika musibah terjadi harus ada yang di gantung, eh… ada kambing-hitamnya. Maka mulai dari aktivis LSM, wartawan asli sampai palsu, demonstran bayaran dan demostran teh botol, rame-raame berteriak lantang agar Kapolres dan Kapolsek di copot karena lalai. Weleh… weleh.. weleh…!
Untuk mencegah agar tidak semakin jatuh korban lebih banyak, maka pihak-pihak yang merasa akan di gantung, dengan sigap mengamankan Ponari. Ponari diungsikan. Dan tempat praktek untuk sementara ditutup dengan waktu yang tidak dapat ditentukan. Sementara para elit petinggi kota itu sibuk nelakukan koordinasi. Memikirkan dan merencanakan dan mencari solusi, yang tidak merugikan masyarakat yang memerlukan pengobatan, dan tidak merampas hak-hak Ponari sebagai anak. Tiba-tiba datang rombongan orang penting dari Jakarta.
Rombongan Kak Seto tiba di lokasi sekitar pukul 17.30, dan langsung masuk ke rumah milik Dawuk, yang selama pengobatan ini menjadi tempat menginap Ponari dan ibundanya, Mukharomah. Rupanya Kak Seto punya rencana mulia. Seusai pertemuan, Seto Mulyadi menceritakan, pada pokoknya kedatangan dirinya hanya memberikan pengertian kepada Ponari dan keluarganya tentang hak-hak Ponari sebagai anak, yang harus dilindungi. Laki-laki kelahiran Klaten, Jawa Tengah, itu mengusulkan agar dibuatkan semacam instalasi untuk mengalirkan air sakti ala Ponari ke beberapa tempat tertentu di area lokasi pengobatan.. Instalasi itu terdiri dari beberapa drum atau tangki air ditempatkan pada lokasi agak tinggi, dihubungkan dengan pipa-pipa paralon, kemudian di tempat-tempat tertentu dipasang keran untuk mengucurkan air di tangki lewat pipa. Praktiknya, kata Kak Seto, setiap hari drum besar atau tangki diisi air. Kemudian Ponari mencelupkan batu ajaib ke dalam air di tangki itu, yang itu semua dilakukan dengan disaksikan para pengunjung. Selanjutnya air yang sudah dicelup batu ajaib akan mengalir ke pipa-pipa, yang dipasangi keran di tempat-tempat tertentu, untuk mengucurkan air. “Jadi kalau pasien butuh air untuk berobat, tinggal panitia atau siapapun membukakan kran, diisikan ke gelas pasien,” kata Kak Seto seperti dikutip kompas.com. Ide yang brilyant, hebring pisan euy! Namun sayang, ide yang konon telah disetujui oleh seluruh pejabat penting disemua level itu ternyata sudah keduluan Om Liem. Orang terkaya no.1 di Asia, yang konon kekayaannya bisa untuk membeli pulau-pulau besar di sini. Taoke yang akalnya luar biasa, dan julukan hebat lainnya. Kawan dan lawan para pembaca Koki tercinta, inilah produk yang telah dibuat oleh perusahaan Om Liem,
Neh,
ada pulak versi khusus buat CALEG dan CAPRES. Buruan diborong bagi yang sedang nyaleg dan nyapres! 
Sumber : KOKI

